Dear My dearest friends,
Masih ingat betapa masa SMU penuh kekonyolan?
Penuh hal-hal yang kalau kita cerna sekarang sebenarnya nggak masuk akal?
Tapi di situ pula hal-hal besar berawal.
Itu yang kucoba ungkap di novelku yang ketiga: Join The Gang .
Konyol abis, lucu, heboh!!!!
Membuat kita seperti terlempar ke masa remaja yang penuh huru-hara!
Novel ini spesial karena kudedikasikan untuk SMP dan SMU ku
Kudedikasikan ke mereka karena merekalah yang mengilhami kisah ini.
So aku bilang: SMU 1 banget gitu loh!
Bagi yang ingin ngicipin: silakan, aku kutipkan satu bab buat icip-icip.
Warning: Jangan baca novel ini di waktu sibuk karena dijamin, begitu baca gak bisa brenti sampai halaman terakhir.
Enjoy the reading!
***
“Apa Dicky selalu sekonyol itu?” tanyanya.
Hah, bahkan ketika dia sudah sejauh empat ribu tahun cahaya dari Dicky, dia masih memikirkannya.
“Sekonyol apa?” tanyaku kering.
“Menjawab berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45 waktu ditanyai Pak Yanto….”
Huh, itu memang lucu, tapi norak. Pak Yanto, guru kimia kami, meminta Dicky untuk mengerjakan soal di papan tulis. Ternyata jawabannya salah. Pak Yanto bertanya, “Apa dasar jawabanmu itu?” Dicky dengan santainya menjawab, “Tentu saja dasarnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45,” Seluruh kelas terguncang karena tawa. Dasar Srimulat!
“Juga menelan kertas contekan?”
Oh, itu hanya karangan saja. Itu pasti kisah di kelas matematika. Kami sedang ulangan trigonometri yang rumusnya seabreg-abreg. Dicky membuat contekan di kertas kecil. Waktu guru kami sedang meleng, dia menjalankan aksinya membuka kertas itu dan mulai menyalin rumusnya. Sayangnya, atau untungnya guru kami tidak meleng terlalu serius. Dia curiga pada Dicky, kemudian berjalan ke bangkunya. Rifai tahu Dicky dalam bahaya. Dia buru-buru menyenggol Dicky. Dicky langsung waspada, dia membungkuk, meremas kertas contekannya dan menginjaknya, atau memasukkannya ke sepatu. Tapi jelas bukan menelannya. Mungkin versi menelan itu yang diceritakan pada Julia. Jelas itu bohong, apalagi bila sampai cerita bahwa setelah menelan kertas contekan itu dia tidak pernah lupa rumus trigonometri, kemudian berpikir akan menulis rumus logaritma, sebagai percobaan apakah dia juga akan ingat rumus logaritma bila menelannya.
“Juga membakar pantat…”
Ya ampun, kisah tidak mutu begitu juga diceritakan pada Julia. Apa sih yang ada dalam kepala Dicky itu? Bukan tepung bekatul kan?
Ini lelucon, entah siapa yang memulai, namanya pantat panggang. Caranya korek api gas dinyalakan kira-kira satu atau dua centi di bawah celana anak yang sedang nungging. Misalnya di pantat anak yang lagi duduk di bangku kantin tapi separuh pantatnya tidak menempel ke kursi, agak menggantung sedikit. Biasanya sih sebelum terbakar, mereka akan merasakan panas dan terlonjak. Kemudian ditertawakan. Nah, begitu. Biasanya si korban tak pernah marah-marah, tapi selalu merencanakan untuk balas dendam, bukan pada si pelaku karena si pelaku biasanya orang yang sangat hati-hati. Jadi kami berusaha supaya tidak pernah nungging. Misalnya waktu ngobrol di kelas, sebaiknya kami tak perlu mencondongkan tubuh kami ke meja dan membiarkan pantat kami bebas hambatan.
Aku tak tahu apa Dicky menceritakan lelucon terbesar dari permainan pantat panggang itu. Setelah pelajaran olahraga, Danil, begitu saja memakai celana seragamnya di atas celana olahraganya. Padahal,sumpah, celana olahraga kami begitu tebal, jadi aku tak tahu apa yang dipikirkan Danil sehingga memakai celana rangkap seperti itu. Waktu itu, dia berjongkok di tepi lapangan sambil makan mie ayam. Dan jongkok adalah posisi yang paling bagus untuk membuat pantat panggang, segera saja ia jadi korban. Sampai lama sekali, dia tidak juga melonjak dan membuat mie ayamnya berhamburan. Sampai si pelaku pegal—dan jarinya sendiri kepanasan. Sampai pantat Danil mengeluarkan asap! Semua panik. Dan tahulah kami sebabnya, celana dobel itu membuat Danil tak merasakan panas. Sama sekali, sampai celana seragamnya berlubang. Benar-benar berlubang!
Cerita itu tetap jadi rahasia di antara para cowok, namun bila beredar kadang versinya sudah berubah. Kulit bokong Danil kurang peka sehingga dia tidak merasakan panas. Dia juga nggak ngerasa waktu celananya sudah bolong dimakan api dan dari lubang celana itu ketauan kalau ternyata dia enggak pake celana dalam! Nah itu versi pantat panggang Danil tanpa celana dalam. Yang tentu saja tidak benar.
“Lucu sekali ya,” kata Julia.
Cewek, aku benar-benar tak mengerti. Itu norak bukan lucu. Tapi semua memang lucu, bila tidak terjadi padamu. Bayangkan saja rasanya baru minum coca cola lalu terlonjak kepanasan dan menyemburkan coca cola itu ke mana-mana. Tapi cewek memang selalu suka cowok yang seperti itu, yang membakar pantat, menelan kertas contekan, mengerjai guru, …
“Hai ini puisimu?” tanya Julia.
Ah, lho kok puisi itu sampai ke tangan Julia. Aduh, kenapa aku tidak mengawasinya dan ….
“Bukan, ini ada di kotak naskah masuk,” kataku. Blitz punya kotak naskah masuk, yang tentu saja, banyak kosongnya daripada isinya. Dan selalu ada aja saja yang iseng memasukkan bungkus permen, tisu, malah terakhir bekas kunyahan permen karet.
“Sentimentil sekali ya?” kata Julia lagi.
Nah untung aku tidak mengaku kalau itu buatanku.
***
Join the Gang is published by Gramedia Pustaka Utama